Studi Ungkap Video Game Turunkan Risiko Depresi Anak Laki-Laki

www.artjunction.orgStudi Ungkap Video Game Turunkan Risiko Depresi Anak Laki-Laki. Sepanjang pandemi COVID-19, banyak anak dan remaja menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer & perangkat-perangkat elektronik yang lain. Pembelajaran jarak jauh (di rumah) serta pembatasan kegiatan masyarakat berarti bahwa ada lebih sedikit kegiatan rekreasi untuk anak-anak dan remaja.

Sebuah studi baru yang diterbitkan bulan ini di jurnal Psychological Medicine menunjukkan bahwa aktivitas gadget (termasuk bermain video game) memengaruhi kaum muda. Penulis penelitian mendapati bahwa memainkan video game secara teratur dihubungkan dengan resiko depresi yang lebih rendah pada anak laki-laki (daripada perempuan).

Risiko Depresi pada Anak Laki-Laki dan Video Game

Dr. Britni Belcher, MPH, asisten profesor kedokteran pencegahan di Keck School of Medicine di University of Southern California, Los Angeles, tidak terlibat dalam penelitian ini. Mengenai nuansa penggunaan gadget khususnya dalam kesehatan mental anak.

Studi tersebut mengevaluasi 11.341 remaja yang berpartisipasi dalam “Millennium Cohort Study”. Studi ini sedang berlangsung untuk melacak anak-anak yang lahir antara tahun 2000 dan 2002 di Inggris. Saat peserta berumur 11 tahun, mereka memberi tahu para peneliti seberapa kerap mereka memainkan video game, memakai sosmed, dan terlibat dalam penggunaan internet di waktu luang mereka.

Kemudian, mereka menyelesaikan survei gejala depresi pada remaja berusia 14 tahun. Dibandingkan dengan anak laki-laki yang jarang bermain video game, anak laki-laki di bawah usia 11 tahun yang bermain video game sekali atau lebih per bulan mengalami penurunan skor depresi sebesar 24% hingga 31% pada usia 14 tahun.

Ketika penulis penelitian mengontrol tingkat aktivitas fisik, mereka menemukan bahwa ada hubungan antara penggunaan video game secara teratur dan skor depresi yang lebih rendah, yang hanya signifikan pada anak laki-laki dengan tingkat latihan yang lebih rendah.

Penulis berspekulasi bahwa video game memberi anak laki-laki kesempatan interaksi sosial dan hiburan yang bermanfaat, dan mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan ini melalui olahraga atau latihan fisik.

Diperlukan Lebih Banyak Penelitian

Lebih banyak penelitian diperlukan untuk lebih memahami hubungan antara bermain video game dan kesehatan mental pada anak-anak dan remaja. Jenis video game, media sosial, atau situs web tertentu yang digunakan oleh remaja dapat memengaruhi kesehatan mental produk ini.

Jumlah waktu yang dihabiskan untuk aktivitas waktu pemutaran juga memengaruhi potensi manfaat dan risiko aktivitas itu. Penulis studi baru bertanya kepada peserta seberapa sering mereka berpartisipasi dalam aktivitas video game, tetapi tidak menanyakan peserta berapa jam yang mereka habiskan untuk aktivitas ini.

Belcher berkata: “Dari perspektif kesehatan masyarakat, Anda tidak perlu menandai semua video game yang baik untuk kesehatan mental.”

Baca Juga: 8 Laptop Gaming Terbaik di Dunia pada Tahun 2021

Penelitian mereka menunjukkan bahwa ada hubungan antara penurunan tingkat depresi pada kelompok anak laki-laki tertentu. Namun, saya pikir lebih banyak penelitian perlu dilakukan untuk memahami berapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk perilaku ini selanjutnya .

Mempraktikkan Kebiasaan Sehat Tak Kalah Penting

Untuk mendapatkan kesehatan mental dan fisik yang terbaik, sangat penting bagi anak-anak dan remaja untuk menjaga keseimbangan antara bermain video game dan berolahraga. Dr. Jason Nagata, asisten profesor pediatri di Fakultas Kedokteran Universitas California di San Francisco, mengatakan bahwa orang tua harus membatasi waktu yang dihabiskan anak-anak mereka untuk bermain video game dan memastikan mereka cukup tidur dan melakukan aktivitas fisik.

Nagata menyarankan para orang tua untuk meminta anak-anaknya menghindari bermain video game satu jam sebelum tidur dan menyimpan gadget sebelum tidur di malam hari. Pada dasarnya, berdiskusi dan mencapai kesepakatan dengan anak, kapan harus bermain video game, dan kapan melakukan aktivitas lain.

Karena apapun yang terlalu tinggi, meskipun itu baik, bisa jadi buruk.

Anak-Anak Sering Main Game? Hati-hati 7 Dampak Ini

Anak-anak cenderung menyukai hal-hal yang menarik, termasuk bermain video game. Hal tersebut membuat anak-anak sering menghabiskan banyak waktunya untuk bermain game, bahkan menjadi ketagihan. Bahkan, Anda bisa sesekali membiarkan si kecil bermain game untuk mengisi waktu luang. Namun, jika Anda melakukannya terlalu sering, ini dapat menyebabkan konsekuensi yang tidak diinginkan.

Faktanya, anak-anak yang memainkan banyak permainan mungkin memiliki banyak efek, termasuk efek pada kesehatan fisik dan kesehatan mental. Kebiasaan menghabiskan waktu bermain game akan membuat anak Anda ketagihan. Jika tidak bermain, Anda akan merasa gelisah, mudah tersinggung, sulit berhenti bermain game, dan tidak peduli dengan orang di sekitar Anda hingga timbul gejala penyakit seperti migrain atau capek. mata muncul.

Dampak Keseringan Main Game

Terlalu sering bermain game, terlebihi sampai membuat anak tak melakukan aktivitas lain bisa memicu beragam dampak buruk, di antaranya:

1. Kesehatan Mata Terganggu

Saat bermain game otomatis, terlalu lama menatap layar komputer atau gadget dapat menyebabkan kesehatan mata anak menurun, mulai dari mengurangi kelelahan mata hingga kerusakan saraf mata.

2. Gangguan Motorik

Hanya duduk dan bermain game sepanjang hari juga akan membuat gerak anak Anda berkurang. Akibatnya, seiring berjalannya waktu, kemampuan motorik anak akan menurun, yang akan membuat perkembangan fisiknya tidak dapat mencapai kondisi optimal, yang menempatkan anak pada risiko obesitas.

3. Nyeri Sendi

Saat bermain game, anak secara tidak sadar akan bermalas-malasan atau berbaring. Posisi duduk ini bukanlah posisi duduk yang sehat. Jika anak Anda duduk dalam posisi yang salah dalam waktu yang lama, hal itu dapat membuat ototnya kaku dan menyebabkan nyeri sendi.

4. Menurunkan Tingkat Konsentrasi Anak

Menurut penelitian, memanjakan diri dalam bermain game bisa menyebabkan anak mengalami masalah kurangnya perhatian. Saat anak suka bermain game, struktur dendritik sel di otak akan berubah. Hal tersebut menyebabkan konsentrasi anak menurun, sehingga ia mudah lupa dan tidak dapat berkonsentrasi. Paparan radiasi peralatan elektronik juga dapat melemahkan konsentrasi anak.

5. Anak Kurang Bersosialisasi

Anak di bawah umur yang kecanduan bermain game biasanya lebih suka bermain di komputer di rumah daripada bermain di luar bersama teman. Akibatnya, jika anak harus berinteraksi dengan lingkungannya, mereka akan menjadi kikuk atau tidak mampu.

6. Masalah Komunikasi

Keterampilan sosial tidak hanya menjadi masalah, anak yang kecanduan game juga akan kesulitan untuk berkomunikasi. Kegiatan komunikasi tidak hanya mendengarkan dan menanggapi perkataan orang lain, tetapi juga membaca ekspresi wajah orang lain. Seringkali sulit bagi anak yang tidak ramah untuk melakukan hal ini.

7. Anak Jadi Lebih Agresif

Anak-anak yang kecanduan bermain game yang mengandung unsur kekerasan seperti peperangan dan perkelahian biasanya lebih agresif dan emosional. Meski begitu, sebenarnya bermain game juga bisa membawa manfaat bagi anak, termasuk membantu mereka dengan kemampuan memecahkan masalah dan meningkatkan kreativitas.

untuk itu, penting bagi orang tua untuk lebih bijak dalam memberikan izin anak bermain game, bukan malah melarangnya sama sekali.

WHO: Kecanduan Game Merupakan Gangguan Mental

Bermain game pada dasarnya menyenangkan, apalagi jika Anda memiliki banyak waktu luang untuk bermain. Namun, jika si kecil terus bermain game, mereka perlu mengkhawatirkannya di sini. Pasalnya, bagi sebagian orang, bermain game bisa membuat ketagihan, yakni membuat ketagihan.

Baca Juga: 11 HP Xiaomi Terbaru Beserta Spesifikasinya Maret 2021

Sebaiknya jangan meremehkan sifat adiktif dari game ini. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kecanduan game diklasifikasikan sebagai gangguan mental. Langsung saja simak ulasan lengkapnya di bawah ini.

Kecanduan Game Gangguan Mental?

Bermain game pada dasarnya menyenangkan dan bisa menghilangkan rasa bosan, sehingga bisa memanfaatkan waktu luang. Bermain game mengaktifkan banyak bagian otak, termasuk “sirkuit kesenangan”. Namun, jika aktivitas yang menyenangkan ini memakan banyak waktu dan bahkan membuat si kecil ketagihan, mungkin akan merepotkan.

Pasalnya, WHO telah menetapkan bahwa kecanduan game atau gangguan bermain game adalah gangguan jiwa. Para ahli dari WHO telah menambahkan kecanduan game ke Klasifikasi Statistik Internasional Penyakit (ICD) ke-11.

Draf dokumen ICD menggambarkannya sebagai perilaku permainan yang terus menerus atau berulang, yang begitu serius sehingga “(permainan) lebih diutamakan daripada kepentingan hidup lainnya”. Faktanya, beberapa negara telah mengidentifikasi kecanduan game sebagai masalah kesehatan masyarakat yang utama.

Menurut Dr. Pakar kecanduan teknologi (pakar kecanduan teknis) Richard Graham dari London Nightingale Hospital telah memasukkan kecanduan game ke dalam ICD dan telah disambut oleh pakar kesehatan.

“(Kecanduan game) penting karena menciptakan peluang untuk layanan yang lebih profesional. Ini perlu ditanggapi dengan serius.”

ICD adalah sistem yang mendaftar penyakit dan gejala, tanda dan penyebabnya yang dikeluarkan oleh WHO. Nah, kecanduan game semacam ini kini telah digolongkan oleh para ahli dalam daftar penyakit yang disebabkan oleh perilaku adiktif. Dengan kata lain, itu adalah penyakit yang disebabkan oleh kebiasaan atau kecanduan. Jadi, kecanduan seperti apa yang harus Anda waspadai?

Bila ketiga syarat tersebut terpenuhi maka dapat dikatakan bahwa kecanduan game ini adalah penyakit:

  1. Jika pemain (pemain game) tidak bisa mengontrol kebiasaan bermain game.
  2. Mulailah memprioritaskan permainan di atas aktivitas lainnya.
  3. Bahkan jika ada efek negatif yang jelas terlihat, teruslah bermain.

Nah, ketiga tanda di atas pasti muncul atau sudah terlihat dalam waktu satu tahun sebelum didiagnosis. Untungnya, tidak semua jenis game membuat ketagihan dan dapat menyebabkan gangguan. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, aktivitas bermain game hanya disebut gangguan mental jika mengganggu atau mengganggu kehidupan pribadi, keluarga, pekerjaan, sosial, dan pendidikan. Lantas, bagaimana caranya agar anak Anda tidak kecanduan game? Ya, setidaknya Anda bisa mencoba beberapa metode.

Tips Membatasi Anak yang Gemar Nge-game

Menurut penelitian, ada banyak pengaruh kurang baik yang dapat mengancam anak-anak yang acapkali menghabiskan waktu dengan bermain video game. Lantas, bagaimana sih cara membatasi anak bermain game?

  • 1. Tidak Menaruh Komputer di Kamarnya

Teknik ini bisa dikatakan paling “efektif”. Singkatnya, jangan letakkan komputer atau TV di kamar anak. Tujuannya untuk memudahkan ibu atau pengasuh memantau waktu video game. Ya, anak-anak bisa bermain game di dalam kamar tanpa sepengetahuan orang tua mereka.

Jika anak Anda bermain game di smartphone, tablet, atau konsol game portabel, minta dia untuk menyimpan alat-alat ini saat dia tidur, makan, atau pergi ke kelas. Namun, jika anak masih “bandel”, bunda bisa menjaga alat-alat tersebut. Kemudian, Anda dapat memberikan reward kepada anak-anak setelah mereka menyelesaikan studinya.

  • 2. Pakai Fitur Parental Control

Coba gunakan fungsi parental control, karena teknik ini juga sangat efektif dalam membatasi anak untuk bermain game. Kini, di hampir setiap game, terdapat fungsi yang memungkinkan para ibu untuk mengelola semua konten yang terkait dengan game tersebut. Nah, dengan fungsi ini, Anda bisa mengatur waktu bermain game bagi anak-anak.

  • 3. Tegaskan Peraturan Sebelum Bermain

Sebelum anak Anda bermain video game, minta dia untuk memperhatikan waktu. Kemudian, orang tua bisa membuat aturan tentang waktu bermain. Misalnya, mengklaim bahwa Anda harus berhenti bermain satu jam dari sekarang. Dengan cara ini, si kecil tidak bisa membuat alasan.

Oleh karena itu, jika anak Anda mengalami kecanduan game atau gangguan kesehatan fisik dan mental lainnya, Bunda dapat memeriksakan kondisinya di rumah sakit yang dipilih.

  • 4. Tetapkan Batas.

Apakah anak-anak menghabiskan terlalu banyak waktu untuk bermain game online? Tanpa gadget, apakah dia akan bingung? Kemudian bantu anak-anak memulihkan keseimbangan antara dunia game online dan dunia nyata. Oleh karena itu, batasi durasi, lokasi, dan bahkan batasan berdasarkan hari dalam seminggu.

  • 5. Ambil Gadget dan Jauhkan dari Anak.

Jika pengaturan batas tidak berfungsi dengan baik, jelaskan kepada anak-anak Anda bahwa game online menjadi semakin penting dalam hidup mereka. Letakkan gadget di tempat yang tidak dikenal anak-anak. Ingat, belajar adalah hal terpenting bagi anak-anak saat ini. Beri tahu anak Anda bahwa dia bisa bahagia tanpa bermain game online. Setelah itu, selama anak bisa bermain, diskusikan dengan baik.

  • 6. Berbagi Gadget.

Cara efektif lain untuk mencegah anak-anak memanjakan diri dengan game online adalah dengan meminta mereka berbagi gadget dengan orang tua. Dengan asumsi bahwa gadget yang digunakan untuk bermain game online tidak sendiri, maka dapat dikatakan orang tua membutuhkannya untuk keperluan bekerja. Ini menunjukkan bahwa orang tua sangat serius melarang anak bermain game online.

  • 7. Sembunyikan.

Bila anak terlalu mengandalkan gadget yang digunakan untuk bermain game online, coba sembunyikan sebentar. Cobalah membujuk anak untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan pekerjaan rumah lainnya sambil menyimpan gadget. Jika anak dalam keadaan sehat, tolong berikan gadget tersebut kepada anak untuk dimainkan sebentar.

  • 8. Jadikan Sebuah Reward.

Orang tua juga dapat memberikan tantangan dan reward bagi anak-anak untuk bermain game online. Misalnya, jika seorang anak dapat menyelesaikan 3 tugas atau melakukan beberapa hal positif, maka ia dapat bermain game online selama 1 jam (atau waktu yang ditentukan oleh orang tua). Namun harus juga dihukum, misalnya jika anak tidak bisa menyelesaikan tugas, dia tidak diperbolehkan bermain.

  • 9. Bicarakan tentang Dampak Bermain Game Online.

Jika anak menjadi terlalu kritis dan tidak menyukai aturan yang diterapkan orang tuanya, maka sebenarnya mereka menunjukkan kecerdasan. Oleh karena itu, orang tua dapat berdiskusi dengan mereka tentang alasan mengapa orang tua membatasi anak mereka untuk bermain game online. Jelaskan kepadanya bahwa kebiasaan dan kecanduan game online adalah hal yang buruk dan dapat membawa dampak negatif.

Jika cara ini masih belum menyelesaikan masalah, maka sudah saatnya orang tua mencari bantuan profesional kemudian pergi ke rumah sakit terdekat untuk bertemu dengan psikolog anak.

Risiko dan Masalah Kesehatan Akibat Kecanduan Game Online

  • Ingatlah bahwa kecanduan video game dapat berdampak negatif pada pikiran dan tubuh anak yang sedang berkembang. Pemain dewasa juga mungkin mengalami efek buruk dari game online. Berikut beberapa masalah kesehatan yang mungkin dialami anak-anak yang kecanduan game online:
  • Lebih sedikit tindakan. Bermain game online dalam waktu yang lama menyebabkan kurangnya latihan fisik, yang menyebabkan masalah kesehatan seperti penambahan berat badan, postur tubuh yang buruk, dan peningkatan risiko diabetes tipe 2 pada anak-anak dan remaja.
  • Kurangnya interaksi sosial. Game online tidak dapat mempersiapkan anak untuk interaksi sosial yang baik dengan teman sebayanya. Mempelajari cara berinteraksi dengan orang lain di dunia nyata adalah keterampilan sosial yang penting, dan anak-anak yang bermain game online mungkin terlalu lama mengabaikannya.
  • Alihkan perhatian dan konsentrasikan. Akibatnya, prestasi anak-anak di sekolah menjadi tidak baik.
  • Kekerasan meningkat. Game online berisi banyak perkelahian, perkelahian, atau perilaku kekerasan, yang dapat menyebabkan anak-anak berpartisipasi dalam praktik adegan tersebut di dunia nyata.
  • Kejang dan cedera stres berulang. British Medical Journal (BMJ) menerbitkan artikel tentang risiko bermain video game untuk pemain yang menderita epilepsi atau kejang lainnya. Grafik yang berkedip-kedip, cahaya, dan warna tampilan video game dapat memicu kejang pada beberapa pemain. Ada juga bukti bahwa permainan kompulsif dapat menyebabkan cedera tekanan berulang pada pergelangan tangan atau tangan

19 Langkah Penting untuk Menjaga Kesehatan Otak

www.artjunction.org19 Langkah Penting untuk Menjaga Kesehatan Otak. Apabila dijalani secara teratur, sejumlah kebiasaan sehat ini bakal membuat otak Anda akan tetap sehat serta cemerlang hingga usia tua.

Setiap orang, terlepas dari berupa pun usianya, pastinya begitu menginginkan otak cemerlang dengan memiliki ingatan tajam. Otak sehat bisa membantu seseorang ketika bekerja dan meningkatkan produktivitasnya. Oleh karena itu, untuk menjaga kesehatan otak, Anda perlu melakukan beberapa kebiasaan sehat.

Sebaliknya, otak pikun atau kerap mengalami kelupaan bakal menghambat seseorang menjalani aktifitasnya sehari-hari. Karena itu, pikun merupakan salah satu sesuatu yang ditakuti banyak orang.

Pikun atau yang sering di sebut dengan demensia merupakan masalah kesehatan yang terjadi pada 50 juta penduduk di dunia. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan ada 10 juta kasus baru demensia setiap tahun dan jumlah ini diperkirakan akan bertambah hingga tiga kali lipat.

Demensia akan menjadi permasalahan serius mengingat bisa membuat seseorang menjadi sangat bergantung kepada orang lain, serta bisa menimbulkan komplikasi yang lain seperti depresi. Gejalanya di antaranya adalah kesulitan mengingat nama/kejadian, kesulitan menjalani aktifitas sehari-hari, serta sulit fokus dan berkonsentrasi.

Nah, bagaimana dengan Anda ? Apakah Anda seorang penderita penyakit demensia? Mungkin Anda kurang sering melakukan aktivitas yang sebenarnya berguna untuk menjaga otak tetap sehat. Kian bertambahnya umur, biasanya kian rentan untuk menidap penyakit demensia.

Penelitian yang telah dilakukan ahli saraf di HMS menyatakan bahwa struktur serta fungsi otak yang berkaitan dengan memori dapat berubah seiring dengan pertambahan usia. Selain itu, tergantung juga dengan seberapa banyak sel otak yang telah dipakai oleh seseorang. Pada dasarnya, kita hanya memakai 10% sel dari total sel otak yang kita punya.
Pemakaian sel otak berkaitan dengan fungsi berpikir, kognitif, IQ dan nalar pada manusia.

Cara menggunakan otak kita di kegiatan sehari-hari, masalah, serta kebiasaan yang dilakukan adalah bentuk dalam cara kita menggunakan otak kita,” kata Jennifer Zientz, MS, kepala layanan klinis di Pusat Kesehatan Otak di Universitas Texas yang berada di Dallas.

Baca Juga: Hal yang Harus Dilakukan Saat Orang Terdekat Terinfeksi Covid-19

Gaya hidup serta pola makan sehari-hari bisa membantu mencegah penurunan kognitif, menambah kreativitas, menjaga kondisi seperti depresi, mengurangi resiko dampak dari penyakit demensia.

Pada saat ini, belum ada pengobatan yang benar-benar bisa menyembuhkan demensia. Meskipun demikian,terdapat beberapa kebiasaan yang telah terbukti secara ilmiah dapat menjaga otak tetap sehat dan terhindar dari demensia, yaitu:

Beragam hal yang dapat dilakukan untuk menjaga otak sehat

Peningkatan sel otak ternyata dapat dilakukan dengan cara selalu rutin melakukan hal-hal berikut ini:

  1. Melakukan Aktivitas Fisik

Bukti ilmiah yang meneliti soal otak sehat yakni berolahraga, khususnya aerobik & fitness. Tidak sedikit penelitian yang sudah membuktikan kalau aerobik bisa mengurangi tingkat resiko demensia buat orang dewasa.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa orang yang rata-rata melakukan aerobik 30 menit per hari serta  melakukannya rutin setidaknya lima kali dalam seminggu, bisa meningkatkan kemampuan akal dan meningkatkan massa otak.

Menjaga otak agar tetap sehat melalui olahraga antara lain bisa membantu sirkulasi darah lancar, mengurangi tingkat stress, menstimulasi hormon yang dapat memperbaiki mood serta membuat tidur lebih pulas.
Olahraga lain seperti dance sport, olahraga yang melatih kelenturan dan kekuatan otot, terbukti lebih baik bagi kesehatan otak ketimbang dengan olahraga sederhana sebagaimana melakukan jalan-jalan atau berlari. Sebaiknya dilakukan tiga hingga lima kali per pekan dengan masing-masing 30 menit per sesi.

  1. Mengonsumsi Makanan yang Sehat

Ingatlah bahwa Anda makan untuk keseluruhan tubuh Anda, termasuk untuk kesehatan otak. Oleh karena itu, makanlah sesuai dengan kebutuhan, kurangi gula, gara, dan lemak jenuh tinggi. Perbanyak memakan makanan serat dari buah, sayur, serta karbohidrat kompleks layaknya gandum. Memakan makanan yang memiliki kandungan B6, B12 dan asam folat yang bisa mencegah penurunan daya ingat Anda. Sayuran yang berwarna hijau tua biasanya mengandung banyak vitamin B6 dan B12.

  1. Melibatkan Diri dalam Kegiatan Sosial

Penelitian terbaru dari Universitas Alberta Kanada menemukan bahwa kegiatan sosial selayaknya melakukan kumpul-kumpul guna makan malam bisa membantu mengurangi risiko kehilangnya ingatan pada orang berusia di atas 55 tahun.

anfaatnya tidak terbatas pada kekuatan otak yang lebih baik. Mereka yang berusia antara 55 dan 75 dengan ingatan yang baik juga cenderung memiliki detak jantung yang lebih rendah dan lebih sedikit gejala depresi, serta
Hasil penelitian yang telah dilakukan pada orang-orang yang menderita demensia, memperlihatkan kalau dengan melakukan membangun koneksi, kegiatan sosial, serta berkomunikasi dengan orang lain, bisa mengurangi tingkat demensia.

Interaksi yang bisa dilakukan dengan teman, keluarga, atau kerabat dekat yang lain, terbukti mampu untuk dapat memperlambat penurunan ingatan pada usia dewasa. Tidak hanya itu, bersosialisasi dengan lingkungan sekitar bisa membantu kita menghindarkan dari rasa stress serta depresi, menambah rasa nyaman, serta menambah kapasitas intelektual.

  1. Melakukan Kegiatan yang Bisa Mengasah Otak

Kegiatan seperti main alat-alat musik, main catur, atau mengisi teka-teki silang adalah hal sederhana yang dapat membuat otak Anda ‘berolahraga’. Dengan melakukan hal ini, Anda dapat meningkatkan kemampuan akal dan daya ingat, meningkatkan jumlah sel otak, dan bisa mengurangi risiko demensia. Selain bermain, kamu pun bisa mempelajari bahasa asing, membaca novel, atau mempelajari sesuatu hal baru. Hal ini membuat otak harus mengingat terus-terusan, dengan demikian membuat otak terus melakukan ‘olahraga’ dan menjadikannya sehat.

  1. Memastikan Istirahat dan Tidur Cukup

Menurut pakar kesehatan waktu tidur yang di sarankan dalam sehari adalah 6 jam per hari-untuk orang dewasa. Dengan tidur paling tidak selama enam jam per hari, bisa mengembalikan kebugaran tubuh, menambah mood serta sistem kekebalan tubuh, & bisa mengurangi resiko mengalami Alzheimer.

  1. Menghindari Hal yang Beresiko Mengganggu Kesehatan Otak

Menghindari bermacam-macam hal yang bisa mengganggu kesehatan otak Anda seperti, overweight, hipertensi, mempunyai kolesterol tinggi serta depresi. Hipertensi, obesitas, dan kolesterol tinggi dapat mengganggu kesehatan otak karena dapat menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah yang juga bisa terjadi pada pembuluh darah di otak. Selain itu, merokok juga dapat meningkatkan 2x resiko lebih tinggi mengalami Alzheimer ketimbang dengan orang yang tak merokok sama sekali.

Selain itu, penelitian yang dilakukan selama dua tahun pada 1,260 lansia, menyatakan bahwa dengan melakukan diet yang baik, olahraga dan melakukan latihan otak secara rutin, tidak hanya menurunkan risiko terkena penyakit jantung pada kelompok tersebut, tetapi juga mengurangi resiko penurunan fungsi kognitif, alhasil membuat otak tetap sehat.

  1. Yoga

Menurut tim ilmuwan saraf UCLA, ketenangan batin bukanlah satu-satunya kegembiraan yang didapat dengan mengikuti kelas yoga. Orang-orang yang berlatih yoga dan meditasi Kundalini selama tiga bulan mengalami pengurangan kognitif serta masalah yang sering mendahului penyakit Alzheimer dan bentuk lain dari demensia. Faktanya, bahwa yoga rupanya lebih efektif dari pada latihan penambah daya ingat tradisional, guna menjaga kesehatan otak.

  1. Bermain Teka – Teki Silang

Dua makalah baru-baru ini yang diterbitkan dalam International Journal of Geriatric Psychiatry menemukan bahwa semakin dewasa, orang dewasa yang berusia 50 dan lebih memainkan permainan kata dan angka yang melibatkan mental seperti teka-teki silang dan Sudoku, akan membuat fungsi otak akan semakin baik di beragam bidang tidak terkecuali ingatan, perhatian serta dalam hal penalaran.

  1. Tidur siang

Tidur siang selama kurang lebih sekitar 45 hingga 60 menit dapat meningkatkan pembelajaran dan memori lima kali lipat. Peneliti Jerman meminta seseorang untuk belajar pasangan kata dari daftar dan mengujinya pada kemampuan mengingatnya. Lantas, setengah dari kelompok terebut tertidur sementara para peneliti mengukur aktivitas otaknya (terutama “gelendong tidur” —sebuah ledakan aktifitas di hippocampus yang terlibat pada konsolidasi memori), sedangkan lainnya menyaksikan DVD. Ketika mereka menguji ulang seberapa baik orang mengingat pasangan kata, para nappers melakukan sekitar lima kali lebih baik.

  1. Mempelajari Bahasa Kedua

Dari sebuah penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti-peneliti di Concordia University di Montreal, Kanada, menjadi bilingual mempunyai kaitan dengan struktur otak yang lebih sehat. Para ilmuwan menggunakan scan MRI untuk mengukur otak orang-orang yang mengalami penurunan kognitif.

Baca Juga: 10 Ciri-ciri Terpapar Virus Corona, Ada Tanda yang Baru

Apa yang mereka temukan: Otak orang yang fasih berbahasa lebih dari satu di daerah yang mengontrol bahasa, kognisi dan memori. Penulis mencatat bahwa berbicara dua bahasa mungkin tak mencegah Alzheimer namun bisa membantu membangun cadangan kognitif yang bisa melambatkan munculnya gejala penyakit.

  1. Ikuti diet Mediterania

Diet tradisional Mediterania (banyak buah dan sayuran segar, lemak sehat seperti minyak zaitun, kacang-kacangan, biji-bijian, dan ikan; anggur merah sedang; daging merah terbatas) bisa menambah kesehatan otak.

Sebuah studi dari jurnal Neurology menunjukkan bahwa orang tua yang menjalani diet gaya Mediterania menjaga lebih banyak volume otak sepanjang periode 3tahun ketimbang mereka yang tidak mengikuti diet dengan cukup ketat. Para peneliti telah menghubungkan pengurangan volume otak serta sel-sel otak dengan selisih memori serta perkembangan gangguan neurologis tak terkecuali demensia.

  1. Makanlah dark chocolate

Makanan manis dapat membuat Anda lebih cerdas. Satu studi baru-baru ini mengungkapkan kalau flavanol yang didapati dalam kakao memberikan manfaat kognitif positif — khususnya dalam pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan memori, fungsi eksekutif, dan kecepatan pemrosesan pada orang dewasa yang lebih tua. Penelitian sebelumnya pun sudah menghubungkan flavanoid kakao dengan penambahan perhatian, kognisi, serta memori kerja.

  1. Belajar sesuatu yang baru

Menurut sebuah studi dalam jurnal The Gerontologist, lansia yang menghabiskan 12 minggu belajar menggunakan iPad dan berbagai aplikasi lebih baik mengingat acara sehari-hari dan bagaimana menjalani tugas-tugas sederhana yang lain ketimbang dengan menjalani kegiatan yang tak melibatkan pelajaran sebuah keterampilan anyar, layaknya melihat film atau menjalin sosialisasi dengan orang lain.

Para peneliti mempercayai bahwa tidak hanya menggunakan tablet yang meningkatkan pemikiran peserta, Akan tetapi proses belajar sesuatu yang baru secara aktif juga dapat membantu meningkatkan pemikiran. Hal-hal ini merupakan kegiatan yang dapat Anda lakukan untuk meningkatkan kekuatan otak Anda.

  1. Menjauhi Alkohol

Alkohol bersifat toksik (racun) terhadap sel otak. Risiko kerusakan pada otak akan meningkat apabila Anda memiliki kebiasaan minum alkohol. Karena itu, hindari alkohol agar dapat menjaga sel otak Anda tetap sehat.

  1. Berhenti Merokok

Tak hanya meningkatkan risiko penyakit jantung serta kanker, rokok juga terbukti dapat menurunkan kemampuan kognitif serta mempengaruhi kesehatan otak. Berhenti merokok dapat menjadi langkah awal dalam menjaga kesehatan otak Anda.

  1. Konsumsi Makanan Sehat

Pola makan sehat dan bergizi seimbang dapat membantu menjaga sel otak Anda tetap sehat. Awali dengan memperbanyak makan buah dan sayur, serta menggunakan sumber lemak sehat seperti minyak jagung dan minyak zaitun.

Perbanyak juga mengkonsumsi ikan mengingat banyak penelitian membenarkan kalau teratur makan ikan dapat mencegah penurunan ingatan atau memori.

Makanan yang baik untuk kesehatan otak

Penelitian telah menemukan bukti bahwa makanan juga ikut berperan dalam menjaga kesehatan otak. Jenis nutrisi yang diperlukan adalah vitamin E, vitamin B, dan asam lemak omega-3. Selain itu yang harus dihindari adalah lemak jenuh.

Beberapa makanan yang baik untuk kesehatan otak ialah:

  • Buah-buahan seperti berries
  • Sayuran hijau
  • Makanan laut
  • Ikan kaya omega-3
  • Gandum utuh
  • Produk olahan susu rendah lemak
  • Protein rendah lemak

Selain beberapa jenis makanan di atas, menghindari konsumsi makanan yang diproses berlebihan dan daging merah juga dapat menjadi pilihan menjaga kesehatan otak lewat makanan.

Hal-hal di atas tentu lebih mudah dilakukan sejak usia muda, demi menjaga kesehatan otak dan fungsi kognitif. Akan tetapi jika sudah terlanjur menua, tak ada kata terlambat.

Contoh sederhana adalah membuat mnemonic, atau cara kreatif dalam membuat daftar lewat singkatan huruf. Contohnya RICE yang berarti Rest, Ice, Compression, Elevation. Buat sendiri mnemonic versi Anda yang berhubungan dengan aktivitas sehari-hari.

Beri keyakinan juga pada lansia yang ada di sekitar Anda bahwa menua bukan berarti akan menjadi pikun. Semakin seseorang merasa optimis dengan kemampuannya, bakal semakin bagus juga rasa percaya diri untuk menambah daya ingat dan kemampuan kognitifnya.

  1. Kontrol Penyakit Metabolik

Demensia ada hubungannya dengan tekanan darah tinggi, penyakit jantung, kolesterol dan penyakit gula (diabetes). Mereka yang mempunyai penyakit metabolik itu lebih beresiko mengalami pikun atau demensia.

Apabila Anda mempunyai berbagai jenis penyakit itu, sebaiknya kamu rutin konsultasi dengan dokter serta meminum obat guna mengendalikan konsisi penyakitnya, alhasil kesehatan otak tetap terjaga.

  1. Punya Hewan Peliharaan

Memiliki Hewan kesayangan di rumah ternyata juga menyehatkan otak serta mental, termasuk menjaga mood tetap stabil agar terindar dari stress . Studi terhadap anak-anak yang memiliki peliharaan anjink mendapati, mereka lebih jarang merasa khawatir ketimbang anak yang tidak memiliki peliharaan.

  1. Jauhkan Ponsel dari Kepala Saat Tidur

Bahaya meletakkan Ponsel dekat kepala saat tidur adalah dapat menimbulkan gangguan pada sel otak. Menurut World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia, radiasi HP bisa mempengaruhi susunan saraf manusia hingga dapat menyebabkan kanker atau tumor.

Hal ini bahkan lebih rentan menyerang anak-anak karena kulit kepala dan tengkoraknya lebih tipis daripada orang dewasa, dan lebih rentan terhadap radiasi. Ilmuwan kesehatan lingkungan, berkata kalau paparan radiasi handphone bisa mengakibatkan kerusakan terhadap sel-sel otak. Sel-sel otak yang mengalami kerusakan bisa membuat resiko terjadinya beragam jenis penyakit bertambah, mengingat otak merupakan pusat pengendali tubuh.

10 Ciri-ciri Terpapar Virus Corona, Ada Tanda yang Baru

www.artjunction.org10 Ciri-ciri Terpapar Virus Corona, Ada Tanda yang Baru. Hingga saat ini para peneliti masih terus melakukan penelitian mengenai kasus virus Corona baru. Apa ciri – ciri gejalanya, serta penyakit-penyakit yang bisa ditimbulkan dari virus ini. Di Indonesia sendiri saat ini telah ada 4.557 kasus positif Corona. Sebanyak 380 orang dinyatakan sembuh sementara 399 lainnya meninggal dunia.

Umumnya gejala yang paling sering ditemukan di hampir sebagian besar kasus COVID-19 adalah demam, batuk, dan sesak napas. Tetapi ada beberapa gejala tambahan yang mungkin terjadi, seperti yang sangat mirip dengan flu.

Baca Juga: Wajib Tahu, Inilah Persyaratan Agar Bisa di Vaksin Corona!

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat atau CDC, beberapa gejala itu bisa muncul mulai dari 2 sampai 14 hari sesudah seseorang terkena atau terinfeksi virus. Seperti dikutip dari CNN, berikut ini 10 ciri-ciri terkena virus Corona:

10 ciri-ciri terkena virus Corona

1. Napas Pendek

Ciri-ciri terkena virus Corona yang pertama adalah sesak napas atau napas pendek. Sesak napas atau napas pendek ini bisa terjadi tanpa diikuti dengan batuk. Jika kamu merasakan hal ini, seperti dada terasa ketat atau seperti tidak bisa bernapas maka itu pertanda bahwa kamu harus segera melakukan pemeriksaan ke dokter. Hal tersebut karena indikasi terpapar virus Corona yang satu ini adalah yang paling serius.

“Jika anda merasa sesak napas segera hubungi penyedia layanan kesehatanmu, perawatan darurat atau departemen darurat,” ungkap Dr. Patrice Harris selaku Presiden Asosiasi Medis Amerika.

CDC juga menginfokan beberapa indikasi peringatan darurat yang lain terkait COVID-19 sebagai “rasa sakit terus-terusan maupun tekanan di bagian dada,” dan “bibir atau wajah yang menjadi warna kebiburan,” yang bisa menjadi indikasi kurangnya oksigen. Apabila merasakan hal tersebut maka segera datang dokter dan lakukan pemeriksaan.

2. Demam

Ciri-ciri terkena virus Corona yang kedua ialah demam. Demam adalah tanda kunci utama COVID-19. Akan tetapi hal itu tidak selalu berarti jika suhu tubuhmu lebih tinggi atau lebih rendah dari suhu normal maka kamu positif COVID-19. Sejumlah orang memang punya suhu tubuh inti lebih rendah atau malahan lebih tinggi dari suhu tubuh normal, yakni 37,2o Celsius. Oleh karena itu para ahli mengatakan bahwa jangan memfokuskan terhadap angka.

Menurut Dr. William Schaffner, yang merupakan profesor kedokteran pencegahan dan& penyakit menular di Vanderbilt University School of Medicine yang terletak di Nashville, jangan mengandalkan suhu tubuh yang diambil pada pagi hari. Hal itu dikarenakan suhu tubuh tidak akan sama pada siang hari. Sebagai gantinya, anda dapat mengambil suhu tubuh di sore dan saat mala.

“Salah satu gejala demam yang paling umum adalah suhu tubuh Anda naik di sore hari dan malam hari. Itu adalah cara umum virus menghasilkan demam,” kata Schaffner.

3. Batuk Kering

Tanda – tanda terkena virus Corona yang ketiga adalah batuk kering. Batuk kering merupakan gejala umum yang banyak dialami pasien terpapar COVID-19. Namun batuk karena virus Corona bukan merupakan batuk biasa. Batuk itu bakal begitu mengganggu dan dapat dirasakan berasal dari dada.

“Itu bukan rasa geli di tenggorokanmu. Kamu tak hanya batuk guna membersihkan bagian tenggorokan. Tidak hanya batuk diakibatkan iritasi. Hal tersebut datang dari tulang dada, dan Anda bisa berkata bahwa tabung bronkial meradang atau teriritasi,” jelas Schaffner.

Berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia pada bulan Februari, lebih dari 33% dari 55.924 orang dengan kasus virus corona yang diklaim pihak laboratorium mengalami gejala batuk berdahak dari paru-parunya.

4. Menggigil dan Pegal-pegal

Tanda terpapar covid-19 yang ke-4 ialah badan menggigil dan merasa pegal atau sakit di sekujur bagian tubuh. Rasa tersebut biasanya datang pada malam hari. Namun menurut para ahli, tidak semua orang merasakan reaksi yang parah. Beberapa orang bahkan bisa sama sekali tak merasakan ciri-ciri terpapar covid-19 itu, sedangkan orang yang lain merasa kedinginan seperti flu ringan, rasa lelah, sakit pada sendi dan otot.

Namun sayang tidak mudah untuk mencari tahu apakah itu merupakan flu biasa atau COVID-19. Salah satu indikasi Anda kemungkinan mempunyai ciri-ciri terpapar virus Corona ialah apabila gejala yang diderita tak juga membaik sesudah satu minggu atau lebih dan semakin bertambah memburuk.

5. Kebingungan Mendadak

Ciri-ciri terkena virus Corona yang ke-5 ialah merasa bingung secara tiba-tiba. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat atau CDC berkata bahwa kamu mesti hati-hati apabila secara mendadak merasa bingung atau tidak dapat bergerak dan bangun. Hal tersebut dapat menandakan bahwa Anda membutuhkan perawatan darurat.

Maka apabila kamu atau orang-orang di sekitarmu mempunyai indikasi tersebut, terutama jika ciri-ciri terkena virus Corona itu disertai dengan tanda kritis yang lain seperti bibir tampak kebiruan, sulit untuk bernapas, atau merasakan nyari di bagian dada maka CDC merekomendasikan agar segera mencari bantuan.

6. Masalah Pencernaan

Tanda terkena virus Corona yang keenam ialah masalah pencernaan atau lambung. Semula para peneliti tak berpikir diare atau masalah lambung semacamnya bakal muncul menjadi salah satu ciri atau tanda terkena virus Corona. Akan tapi, sekarang dengan kian banyaknya penelitian soal korban selamat, maka didapatkan ciri-ciri terpapar virus Corona yang anyar ini disebabkan banyak pasien selamat yang berbakat bahwa mereka mengalami gejala itu. Dr. Sanjay Gupta berkata bahwa pada suatu penelitian di China yang meneliti kurang lebih sebanyak 200 pasien yang paling awal terpapar, dijumpai bahwa gejala pencernaan atau lambung sejatinya sudah dialami oleh 50% dari pasien itu.

7. Mata Merah Muda

Tanda terkena virus Corona yang ketujuh adalah mata yang berwarna merah muda. Berdasarkan penelitian di China, Korsel, dan negara yang lain memperlihatkan bahwa sekitar 1-3% pasien positif COVID-19 juga menderita konjungtivitis atau yang lebih sering disebut mata merah muda.

Konjungtivitis merupakan peradangan di lapisan jaringan tipis dan transparan, yang bisa dibilang konjungtiva, yang menutupi bagian putih mata dan bagian dalam kelopak mata. Kondisi ini bisa sangat menular jika disebabkan oleh virus.

SARS-CoV-2 hanya salah satu dari banyak virus yang dapat menyebabkan konjungtivitis, sehingga para ilmuwan tidak terkejut bahwa virus yang baru ditemukan ini juga akan melakukan hal yang sama. Mata merah muda memang tidak selalu menjadi pertanda infeksi COVID-19, akan tetapi hal tersebut dapat menjadi indikasi bahwa kamu butuh berkonsultasi dengan dokter, khususnya apabila kamu mempunyai ciri-ciri terpapar virus Corona lainnya, seperti batuk, demam, atau sesak napas.

8. Kehilangan Bau dan Rasa

Tanda terkena virus Corona yang kedelapan adalah kehilangan bau dan rasa. Pada kasus COVID-19 yang ringan sampai sedang, hilangnya kemampuan dalam mencium bau dan mengecap rasa bisa muncul sebagai salah satu tanda awal COVID-19 yang paling tak biasa.

“Yang disebut anosmia ialah yang pada dasarnya berarti kehilangan penciuman, sepertinya menjadi gejala yang dikembangkan beberapa pasien,” kata Dr. Sanjay.

Sebuah analisis terbaru terhadap kasus-kasus ringan di Korea Selatan menemukan gejala utama pada 30% pasien adalah hilangnya penciuman. Di Jerman, lebih dari dua dari tiga kasus yang dikonfirmasi menderita anosmia.

“Anosmia, khususnya, telah terlihat pada pasien yang akhirnya dites positif untuk virus korona tanpa gejala lain,” menurut American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery.

9. Kelelahan

Ciri-ciri terkena virus Corona yang ke-9 ialah kelelahan. Buat sejumlah orang, kelelahan ekstrem bisa menjadi tanda awal terinfeksi COVID-19. WHO mendapati nyaris 40% dari sekitar 6.000 orang yang terpapar virus corona mengalami kelelahan. Kelelahan itu masih bisa berlanjut sekalipun virus telah hilang. Menurut laporan dari pasien COVID-19 yang telah sembuh, rasa lelah dan kurangnya energi terus berlanjut melewati periode penyembuhan standar pada beberapa pekan.

10. Sakit Kepala, Sakit Tenggorokan, Hidung Tersumbat

Beberapa gejala terpapar virus Corona yang terakhir ialah merasakan sakit tenggorokan, hidung tersumbat dan sakit kepala. WHO menemukan sebanyak 14% dari 6 ribu kasus COVID-19 di China memiliki gejala berupa sakit kepala dan sakit tenggorokan. Sedangkan sekitar 5% yang lain merasa hidung tersumbat. Gejala terpapar virus Corona ini terlihat sama dengan penyakit flu. Faktanya memang ada banyak gejala COVID-19 yang menyerupai flu, pilek, atau alergi.

Nah, Itulah 10 ciri-ciri terkena virus Corona yang perlu kamu ketahui. Agar kita semua bisa terhindar maka kita perlu menjalankan protokol kesehatan pencegahan dengan menjaga kebersihan, rajin cuci tangan memakai sabun & air atau hand sanitizer, mamakai masker saat pergi meninggalkan rumah, dan isolasi diri. Malahan, jangan pernah menyentuh bagian wajah menggunakan tangan kotor / belum dicuci.

Baca Juga: 20 Destinasi Wisata yang ada di Jawa Timur!

Ciri-ciri Corona dari yang Ringan hingga Berat, Perlu Kamu Tahu!

Seperti yang telah dikutip dari National Public Radio, beberapa pasien terjangkit Covid-19 atau virus Corona di Amerika Serikat mempunyai gejala flu ringan dan beberapa yang lain mempunyai gejala flu parah. Dilansir WHO, sebagian besar pasien yang terinfeksi Covid-19 atau virus Corona mendapat gejala ringan, sedangkan 14% yang lain mengalami gejala yang lebih parah hingga membutuhkan rawat inap dan oksigen, dan 5% memerlukan perawatan di ICU atau unit perawatan intensif guna mencegah komplikasi yang lebih serius mirip gagal jantung / pernapasan, stroke, kegagalan organ lainnya hingga kematian.

Seperti kata Theresa Madaline, ahli epidemiologi di rumah sakit Montefiore Health System, yang terletak di New York City diantara sejumlah pasien gejala bisa berkembang menjadi serius hanya dalam beberapa jam atau dalam beberapa hari. Gejala dan ciri Corona sekarang yang kemungkinan sering didengar tingkatannya ialah ‘ringan’, ‘sedang’, dan ‘parah’. Berikut ini penjelasannya.

Virus Corona atau Cocid – 19 yang telah ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO saat ini telah menginfeksi lebih dari 172 negara, salah satunya diantaranya Indonesia. Di Indonesia terdapat 893 kasus pasien yang terpapar. Namun sayang tak mudah mengetahui gejala awal dan ciri Corona mengingat kadang kala gejala corona virus justru bisa sama sekali tak dirasakan oleh penderita.

1. Ciri Corona Ringan

Berdasarkan hasil riset yang telah dilakukan World Health Organization (WHO) bersama 25 ahli penyakit menular di China akhir bulan lalu, dalam 80% kasus yang diketahui, Covid-19 menimbulkan penyakit ringan sampai sedang. Berikut ini ciri Corona atau gejala COVID-19 dalam tingkatan ringan:

  • a. Demam
  • b. Sesak
  • c. Sakit dan Nyeri
  • d. Batuk kering

    Tanda Corona di atas ialah yang paling umum dialami oleh sebagian besar orang. Menurut Dr. Amesh Adalja, seorang sarjana senior di Johns Hopkins Center for Health Security, ciri-ciri Corona tingkat ringan itu bakal membuat anda merasa tak harus pergi ke rumah sakit. Kasus Corona ringan ini pada umumnya tak begitu berbahaya, namun pada sejumlah orang khusus seperti orang tua dan orang yang sudah mempunyai riwayat penyakit sebelumnya, gejala ini dapat berkembang jadi gejala atau ciri Corona ‘sedang’ dan membutuhkan sejumlah perawatan seperti penambahan cairan guna menghindari dehidrasi.

2. Ciri Corona Sedang

Inilah tanda atau ciri Corona tingkat sedang:

  • a. Batuk
  • b. Demam di atas 38 derajat celcius
  • c. Menggigil
  • d. Tidak bisa berdiri atau bangun dari tempat tidur

Pengobatan yang akan dilakukan berdasarkan seberapa parah dampak kondisi pasien. Menurut Dr. Kenneth E. Lyn-Kew, seorang ahli paru di bagian kedokteran perawatan kritis serta departemen kedokteran di National Jewish Health di Denver, sesak nafas ialah salah satu gejala dari virus Corona yang utama untuk diperiksakan ke rumah sakit. Hal tersebut disebabkan oleh sesak napas dapat dikarenakan oleh kadar oksigen rendah di darah. Kadar oksigen rendah bisa mengakibatkan penutupan organ atau bahkan kematian.

Pasien yang mengalami gejala sedang biasanya rawat inap tak direkomendasikan, kecuali jika mengalami gangguan dalam pernapasan atau dehidrasi. Ciri -ciri dehidrasi ini bisa berupa meningkatnya rasa haus, mulut kering, penurunan jumlah urin, urin kuning, kulit kering, sakit kepala, dan pusing.

3. Ciri Corona Parah atau Berat

Ciri Corona atau Covid – 19 kategori parah atau berat ialah  Menurut Dr. Van Kerkhove, pneumonia biasanya bisa pulih dengan sendirinya, khususnya pada orang-orang yang berusia lebih muda. Namun pada orang yang lebih tua, plus mmepunyai riwayat kesehatan yang mendasar, pneumonia malah bisa mengancam jiwa alhasil sangat disarankan untuk melakukan rawat inap, khususnya apabila sistem immune tubuhnya lemah. 

Pada pasien yang mempunyai ciri Corona serius, biasanya memerlukan respirator guna membantu dalam bernapas. Apabila tak diberikan, kemungkinan organ sang pasien bisa tertutup serta akan mengakibatkan kematian. Malahan, orang yang mengalami pneumonia pun dapat terpapar infeksi bakteri sekunder yang bisa membahayakan jiwa dan perlu perawatan menggunakan antibiotik intravena.

Masalah berbeda dapat terjadi apabila penyakit itu semakin bertambah parah. Virus bisa measuk ke dalam sel paru-paru dan mulai mereplikasi, membunuh sel-sel. Sistem kekebalan tubuh kemungkinan bakal segera mengambil tindakan melawan virus, membuat peradangan, menghancurkan jaringan paru-paru dan terkadang dapat menghasilkan bentuk pneumonia yang lebih serius. Selain itu, respon yang diberikan sistem kekebalan tubuh pun kadang kala dapat mengalami gangguan terhadap kemampuan dalam mengalirkan oksigen ke dalam darah. Tanpa oksigen yang cukup, peradangan bisa menjadi lebih parah dan menyebabkan kegagalan organ dalam.